Artikel terkait Sangkar Burung by Alhabeta Journal
From Yogyakarta For Yogy∆karta – 2011
Dalam momen akhir tahun ini, penulis ingin mempersembahkan catatan beberapa hal yang terjadi di Yogyakarta pada tahun 2011. Disadari atau tidak, kejadian-kejadian berikut ini cukup berpengaruh di ranah musik Yogyakarta. Dalam artian membuat Yogyakarta menjadi Yogy∆karta. Yap, ini adalah sebuah opini. Semoga bisa dinikmati.
1. Fallenlight demo “Last Man Standing”
Pada akhir tahun 2010, Fallenlight (BM/Punk) dari Yogyakarta merekam dua lagu dan merangkumnya dalam sebuah demo berjudul “Last Man Standing Demo”. Dimana demo ini tersebar melalui jejaring sosial dan berbagai review di media internet pada tahun 2011. Memang gaya musik yang dimainkan oleh Fallenlight ini terbilang orisinil dan amat jarang ditemui di Indonesia. Apalagi mereka adalah satu-satunya band yang diakui oleh Fenriz dari Darkthrone. Setelah itu muncul banyak band yang memainkan Old School Black Metal dengan tema-tema yang horroric dan cult seperti Impish dan Bvrtan. Disusul dengan band yang masih setema seperti Pocong Mvndvr yang penulis nilai sebagai terusan dari Bvrtan. Dengan ini memang 2 lagu yang dirilis oleh Fallenlight merupakan salah satu hal yang berpengaruh pada tahun 2011.
2. Wicked Suffer : Vicious Circle Tape
Mei 2011, sebuah band dari ranah Powerviolence menelurkan album mereka yang berisikan tujuh lagu super jahat dan cepat, yang bisa kita sebut seven deadly tracks with early power violence sounds, in this god-damn age. Mereka menghadirkan kesan gelap dan jahat dalam alunan musik 80’s Hardcore yang kental dengan kecepatan, kependekan dan ketegasan dalam setiap lagu-lagunya. Lirik yang ditulis oleh Rudi sang vokalis pun mencerminkan kebencian-kebencian yang hadir dalam pikiran manusia maupun yang datang dari luar pikiranya. Diikuti dengan musik latar super cepat, naik turun dan ketukan drum yang super agresif, seakan mengajak kita berdansa di atas api neraka! Bayangkan! Kehadiran band seperti Wicked Suffer diikuti dengan lahirnya band seperti Wound yang sama-sama memainkan hardcore gelap dan cepat.
3. Dead-Onion-Vrosk : The Soul of Purification at Jogja National Museum
Acara ini diselenggarakan pada tanggal 10 Mei sekitar pukul 18.00 WIB di Jogja National Museum (JNM), tepatnya di sebuah basement yang kerap menjadi ajang musik keras. Malam itu, suasana di JNM seperti dikelilingi oleh hawa gelap yang dibawa oleh tiga band dari luar Yogya yang hadir malam itu. Dead dari Ausitralia yang membawakan suasana doom/sludge, bersamaan dengan sebuah projek funeral-doom dari bandung yaitu Vrosk benar-benar membuat JNM menjadi terasa lambat dan indah malam itu. Begitu pula dengan Onion. Menurut saya acara yang terbilang kecil ini menjadi salah satu momentum yang bisa disebut The Awakener of the Cult in Yogyakarta. Impact nyatanya mungkin sudah anda nikmati seiring berjalanya tahun 2011.
4. Sangkar Burung : Geek Invasion and Kill Your Fuckin’ Idol

Sangkar Burung merupakan sebuah komunitas yang bergerak dalam bidang event musik dan memang terbilang baru di ranah musik Yogyakarta. Debut mereka dimulai dengan pembuatan acara “Geek Invasion” di halaman luar studio pengerat yang menampilkan band seperti MDAE, dan Daydreamer.
Agenda mereka yang berikutnya adalah acara bernama “Kill Your Fuckin’ Idol”. Di dalam acara tersebut setiap band yang tampil harus membawakan lagu dari grup/artis/band yang menjadi influence mereka, contohnya seperti Talking Coasty membawakan tembang-tembang milik Best Coast dan The Cloves and Tobacco membawakan track-track dari Flogging Molly. Pada malam itu juga hadir sebuah band dari Bandung yaitu A Slow in Dance yang baru saja mengeluarkan EP terbaru mereka. Sangkar Burung berniat mengonsentrasikan acara mereka untuk menampilkan band-band yang memang jarang tampak atau baru memulai debut mereka dan memerlukan wadah berbentuk sebuah acara tanpa mempedulikan apa saja genre band tersebut.
5. Indoneisan Noise Music Documentary Movie
Juni lalu diadakan sebuah pertemuan bermisi pengumpulan materi interview, sebagai bahan untuk pembuatan film dokumenter Noise Indonesia: A Noise music Documentary. Film ini sendiri digarap oleh Danif Pradana (Producer), Adithya Utama (Director) dan Riar Rizaldi (Co-Director). Pertemuan pertama diadakan di Kafe Semesta dan disambung dengan pertemuan berikutnya di kantor netlabel YesNoWaveMusic yang Kunci Cultural Studies, di bilangan selatan Yogyakarta. Para noise maker yang hadir pada kedua pertemuan itu antara lain Indra Menus (To Die, Manhere, LKTDOV), Wok the Rock (Demi Tuhan, The Spektakuler), Krisna Widiathama (Sodadosa),dan Wednes Mandra (Asangata, Bangkai Angsa). Film dokumenter ini rencananya akan dirilis pada bulan Januari tahun 2012 mendatang.
6. Patirasa Record Netlabel: Someday, Your Pain Will Be Felt Normal
Pati Rasa Record adalah sebuah netlabel milik Wednes Mandra yang mulai aktif mengunggah rilisanya di Internet pada tahun 2011. Pati Rasa Record sebenarnya sudah pernah membuat sebuah rilisan fisik pada November 2010 yaitu sebuah Split EP Modarx dengan Bangkai Angsa. Rilisan dari Pati Rasa sendiri tidak terkonsentrasi pada genre musik tertentu, tapi tanpa tersadari terdapat lebih banyak band-band yang memainkan musik yang dekat dengan Noise dan Drone. Dua rilisan terakhir Pati Rasa terbilang cukup gila yaitu Kill My Aquarian milik Indra Menus dan Projek666Satanoise dari Malaysia.
7. My Dear Are Enemy (MDAE) with their presents in 2011
Sebuah band yang mengusung genre post-punk, yang kental dengan unsur gelap nan depresif dari band seperti Bauhaus dan Joy Division serta berisiknya Sonic Youth dan Nirvana, ditambah dengan unsur kerumitan dari Unwound. My Dear Are Enemy memuntahkan satu single yang briliant yaitu, “Tergilas Melintas”. Entah mengapa penulis merasa single terakhir mereka ini merupakan sebuah kreasi penyempurnaan dari lagu mereka yang sebelumnya. Semua unsur musik dan non-musik yang mereka inginkan tercipta di dalamnya. Ketukan drum monoton, permainan bass tebal ala 80’s deathrock/postpunk dan teriakan tak berujung dari Cipta sang vokalis sangat membuat single ini berwarna. Dalam pembuatan lirik, Cipta tetap konstan dengan depresi dan kegelapan yang selalu mewarnai setiap musik dan lirik yang dia buat. Pada pertengahan tahun, mereka juga membuat sebuah EP Live yang berjudul “Live in Namexxx” yang berisikan tiga lagu yang dapat diunduh gratis di Pati Rasa Record.
8. 2011 Single Picks: Talking Coasty, Realino Resort and Armada Racun


Tahun 2011 diwarnai dengan rilisan single dari berbagai band dengan segala macam genre. Dari sekian banyak band, penulis mengambil empat single dari tiga band. Talking Coasty, surfpop/lo-fi dengan dua single berjudul Please Stop Pretending” dan “Stuck On My Room” benar-benar membawa kita ke dimensi lain berwarna kuning, yang kemudian mengingatkan kita dengan Best Coast. Realino Resort, yang penulis rasa sempat terlupakan, juga menggemparkan Desember dengan single barunya “Candu Pencahar”. Tetap kental dengan unsur metal-punk dan riff rock ‘n roll yang sudah mereka letakan pada lagu-lagu sebelumnya. Single ini rencananya akan dimasukan ke dalam EP terbaru mereka yang dijadwalkan rilis pada bulan Januari 2012 mendatang. Yang terakhir adalah band favorit penulis, yaitu Armada Racun dengan sebuah single yang rilis pada 22 Desember lalu. Dalam masa vakumnya, mereka menelurkan single yang tergolong mantap dari segi sound, konsistensi musik yang tinggi, lirik dan musik yang ‘Merah’, ‘beracun’ dan keras. Keempat single dari tiga band ini cukup mewarnai hingar bingar permusikan Yogyakarta pada tahun 2011.
9. 2011 Packaged Releases Picks : To Die, Anggisluka and Belkastrelka 


Jika di atas tadi saya menyebutkan empat single, kali ini penulis ingin menyebutkan tiga rilisan yang ter-packaged rapi, baik EP, Kompilasi ataupun Full-Album. Band pertama adalah To Die yang pada pertengahan 2011 mengunggah semua diskografi mereka melalui Stone Age Records. Rilisan tersebut dapat diunduh secara gratis di situs Stone Age Records. Di dalam diskografi itu terdapat berbagai macam bentuk rilisan dari To Die, seperti Improvisastions and Collaborations, Rehearsals dan Remix yang melibatkan banyak musisi lain. Sementara itu, Anggisluka merilis sebuah EP berjudul “Antiklimaks”, yang berisi lima lagu. Dua lagu di antaranya merupakan lagu lama yaitu “Alone” dan “Maka”. Rilisan ini eksklusif karena diproduksi terbatas. Cara mendapatkan rilisan ini pun cukup unik yaitu dengan menuliskan “Antiklimaks” di pergelangan tangan atau sekitarnya. Tulisan tadi lalu dipotret dan dikirim kepada pihak dari Anggisluka. Dengan cara itu, khalayak bisa mendapatkan rilisan dengan gratis.
Selanjutnya adalah Belkastrelka, yang mengadakan launching mereka pada 24 Novemeber lalu di Teater Garasi. Album bertajuk “Bela Bangsa” ini dirilis dengan bentuk yang unik. Seperti album mereka sebelumnya yang mengambil bentuk tempat korek api kayu, kali ini mereka mereka menggunakan plastik kerap yang digunakan untuk membungkus mainan anak-anak. Dua lagu dalam album baru, yaitu “Agen Gosip” dan “Pujian Ekspatriat”, sudah diunggah di situs Free Singles Club. Pada tanggal yang belum ditentukan, album ini juga akan dirilis secara gratis oleh YesNoWave.com.
10. Rotten Agenda II: Harda Tider and Milisi Kecoa at Slackers Company
Di penghujung tahun, (28/12), terjadi sebuah invasi besar-besaran dari luar Yogya. Band dari Swedia Hårda Tider, yang sedang mengadakan South East Asia Tour, hadir bersama Milisi Kecoa. Beberapa band dari Yogya yang ikut serta memanaskan suasana malam itu adalah Wicked Suffer, Talking Coasty, Orthrus dan Stronger Than Before. Sete Star Sept yang sebelumnya dijadwalkan main, terlambat hadir sehingga tidak bisa turut unjuk gigi malam itu. Menurut penulis ini merupakan agenda musik keras akhir taun yang tidak anti-klimaks. Malam itu suasana panas benar-benar merata. Crowd mulai menggila ketika Stronger Than Before, salah satu band Old School Hardcore kawakan dari Yogyakarta unjuk gigi.
Tanpa menunggu lama, Milisi Kecoa mendapat giliran untuk menghunuskan dua antena kokoh mereka ke arah penonton. “Ini bukan Arab, Bung!” dan “Police Brutality” yang merupakan lagu dari The Clown dibawakan dengan beringas, membuat jiwa-jiwa muda riuh berebut microphone yang dipegang oleh Dani sang vokalis. Sedikit menunggu untuk performa selanjutnya, akhirnya Hårda Tider unjuk gigi di panggung kecil namun luar biasa di Slackers Company. Penonton semakin menggila dengan penampilan band D-beat/Hardcore-Punk asal Swedia ini, saat mereka membawakan “Bring the Ruckus”. Acara ini berhasil menjadi sebuah klimaks di tahun 2011 ini.
Foto Rotten Agenda II oleh Noe Prasetya
Links for each post :
Fallenlight at Facebook
Wicked Suffer at Blogspot
Dead at Facebook
Vrosk at Facebook
Sangkar Burung at Tumblr
Indonoise at Tumblr
PatiRasaRecord at Blogspot
MDAE at Facebook
Talking Coasty at Facebook
Realino Resort at Facebook
Armada Racun at Facebook
To Die at Facebook
Anggisluka at Facebook
Belkastrelka at Facebook
Milisi Kecoa at Facebook
Harda Tider at Facebook
http://alphabetajournal.com/?p=1448









