Artikel terkait Sangkar Burung by Alhabeta Journal

From Yogyakarta For Yogy∆karta – 2011


Ditulis oleh Hilman Fathoni

Dalam momen akhir tahun ini, penulis ingin mempersembahkan catatan beberapa hal yang terjadi di Yogyakarta pada tahun 2011. Disadari atau tidak, kejadian-kejadian berikut ini cukup berpengaruh di ranah musik Yogyakarta. Dalam artian membuat Yogyakarta menjadi Yogy∆karta. Yap, ini adalah sebuah opini. Semoga bisa dinikmati.

1. Fallenlight demo “Last Man Standing”

Pada akhir tahun 2010, Fallenlight (BM/Punk) dari Yogyakarta merekam dua lagu dan merangkumnya dalam sebuah demo berjudul “Last Man Standing Demo”. Dimana demo ini tersebar melalui jejaring sosial dan berbagai review di media internet pada tahun 2011. Memang gaya musik yang dimainkan oleh Fallenlight ini terbilang orisinil dan amat jarang ditemui di Indonesia. Apalagi mereka adalah satu-satunya band yang diakui oleh Fenriz dari Darkthrone. Setelah itu muncul banyak band yang memainkan Old School Black Metal dengan tema-tema yang horroric dan cult seperti Impish dan Bvrtan. Disusul dengan band yang masih setema seperti Pocong Mvndvr yang penulis nilai sebagai terusan dari Bvrtan. Dengan ini memang 2 lagu yang dirilis oleh Fallenlight merupakan salah satu hal yang berpengaruh pada tahun 2011.

2. Wicked Suffer : Vicious Circle Tape

Mei 2011, sebuah band dari ranah Powerviolence menelurkan album mereka yang berisikan tujuh lagu super jahat dan cepat, yang bisa kita sebut seven deadly tracks with early power violence sounds, in this god-damn age. Mereka menghadirkan kesan gelap dan jahat dalam alunan musik 80’s Hardcore yang kental dengan kecepatan, kependekan dan ketegasan dalam setiap lagu-lagunya. Lirik yang ditulis oleh Rudi sang vokalis pun mencerminkan kebencian-kebencian yang hadir dalam pikiran manusia maupun yang datang dari luar pikiranya. Diikuti dengan musik latar super cepat, naik turun dan ketukan drum yang super agresif, seakan mengajak kita berdansa di atas api neraka! Bayangkan! Kehadiran band seperti Wicked Suffer diikuti dengan lahirnya band seperti Wound yang sama-sama memainkan hardcore gelap dan cepat.

3. Dead-Onion-Vrosk : The Soul of Purification at Jogja National Museum

Acara ini diselenggarakan pada tanggal 10 Mei sekitar pukul 18.00 WIB di Jogja National Museum (JNM), tepatnya di sebuah basement yang kerap menjadi ajang musik keras. Malam itu, suasana di JNM seperti dikelilingi oleh hawa gelap yang dibawa oleh tiga band dari luar Yogya yang hadir malam itu. Dead dari Ausitralia yang membawakan suasana doom/sludge, bersamaan dengan sebuah projek funeral-doom dari bandung yaitu Vrosk benar-benar membuat JNM menjadi terasa lambat dan indah malam itu. Begitu pula dengan Onion. Menurut saya acara yang terbilang kecil ini menjadi salah satu momentum yang bisa disebut The Awakener of the Cult in Yogyakarta. Impact nyatanya mungkin sudah anda nikmati seiring berjalanya tahun 2011.

4. Sangkar Burung : Geek Invasion and Kill Your Fuckin’ Idol

Sangkar Burung merupakan sebuah komunitas yang bergerak dalam bidang event musik dan memang terbilang baru di ranah musik Yogyakarta. Debut mereka dimulai dengan pembuatan acara “Geek Invasion” di halaman luar studio pengerat yang menampilkan band seperti MDAE, dan Daydreamer.

Agenda mereka yang berikutnya adalah acara bernama “Kill Your Fuckin’ Idol”. Di dalam acara tersebut setiap band yang tampil harus membawakan lagu dari grup/artis/band yang menjadi influence mereka, contohnya seperti Talking Coasty membawakan tembang-tembang milik Best Coast dan The Cloves and Tobacco membawakan track-track dari Flogging Molly. Pada malam itu juga hadir sebuah band dari Bandung yaitu A Slow in Dance yang baru saja mengeluarkan EP terbaru mereka. Sangkar Burung berniat mengonsentrasikan acara mereka untuk menampilkan band-band yang memang jarang tampak atau baru memulai debut mereka dan memerlukan wadah berbentuk sebuah acara tanpa mempedulikan apa saja genre band tersebut.

5. Indoneisan Noise Music Documentary Movie

Juni lalu diadakan sebuah pertemuan bermisi pengumpulan materi interview, sebagai bahan untuk pembuatan film dokumenter Noise Indonesia: A Noise music Documentary. Film ini sendiri digarap oleh Danif Pradana (Producer), Adithya Utama (Director) dan Riar Rizaldi (Co-Director). Pertemuan pertama diadakan di Kafe Semesta dan disambung dengan pertemuan berikutnya di kantor netlabel YesNoWaveMusic yang Kunci Cultural Studies, di bilangan selatan Yogyakarta. Para noise maker yang hadir pada kedua pertemuan itu antara lain Indra Menus (To Die, Manhere, LKTDOV), Wok the Rock (Demi Tuhan, The Spektakuler), Krisna Widiathama (Sodadosa),dan Wednes Mandra (Asangata, Bangkai Angsa). Film dokumenter ini rencananya akan dirilis pada bulan Januari tahun 2012 mendatang.

6. Patirasa Record Netlabel: Someday, Your Pain Will Be Felt Normal

Pati Rasa Record adalah sebuah netlabel milik Wednes Mandra yang mulai aktif mengunggah rilisanya di Internet pada tahun 2011. Pati Rasa Record sebenarnya sudah pernah membuat sebuah rilisan fisik pada November 2010 yaitu sebuah Split EP Modarx dengan Bangkai Angsa. Rilisan dari Pati Rasa sendiri tidak terkonsentrasi pada genre musik tertentu, tapi tanpa tersadari terdapat lebih banyak band-band yang memainkan musik yang dekat dengan Noise dan Drone. Dua rilisan terakhir Pati Rasa terbilang cukup gila yaitu Kill My Aquarian milik Indra Menus dan Projek666Satanoise dari Malaysia.

7. My Dear Are Enemy (MDAE) with their presents in 2011

Sebuah band yang mengusung genre post-punk, yang kental dengan unsur gelap nan depresif dari band seperti Bauhaus dan Joy Division serta berisiknya Sonic Youth dan Nirvana, ditambah dengan unsur kerumitan dari Unwound. My Dear Are Enemy memuntahkan satu single yang briliant yaitu, “Tergilas Melintas”. Entah mengapa penulis merasa single terakhir mereka ini merupakan sebuah kreasi penyempurnaan dari lagu mereka yang sebelumnya. Semua unsur musik dan non-musik yang mereka inginkan tercipta di dalamnya. Ketukan drum monoton, permainan bass tebal ala 80’s deathrock/postpunk dan teriakan tak berujung dari Cipta sang vokalis sangat membuat single ini berwarna. Dalam pembuatan lirik, Cipta tetap konstan dengan depresi dan kegelapan yang selalu mewarnai setiap musik dan lirik yang dia buat. Pada pertengahan tahun, mereka juga membuat sebuah EP Live yang berjudul “Live in Namexxx” yang berisikan tiga lagu yang dapat diunduh gratis di Pati Rasa Record.

8. 2011 Single Picks: Talking Coasty, Realino Resort and Armada Racun


Tahun 2011 diwarnai dengan rilisan single dari berbagai band dengan segala macam genre. Dari sekian banyak band, penulis mengambil empat single dari tiga band. Talking Coasty, surfpop/lo-fi dengan dua single berjudul Please Stop Pretending” dan “Stuck On My Room” benar-benar membawa kita ke dimensi lain berwarna kuning, yang kemudian mengingatkan kita dengan Best Coast. Realino Resort, yang penulis rasa sempat terlupakan, juga menggemparkan Desember dengan single barunya “Candu Pencahar”. Tetap kental dengan unsur metal-punk dan riff rock ‘n roll yang sudah mereka letakan pada lagu-lagu sebelumnya. Single ini rencananya akan dimasukan ke dalam EP terbaru mereka yang dijadwalkan rilis pada bulan Januari 2012 mendatang. Yang terakhir adalah band favorit penulis, yaitu Armada Racun dengan sebuah single yang rilis pada 22 Desember lalu. Dalam masa vakumnya, mereka menelurkan single yang tergolong mantap dari segi sound, konsistensi musik yang tinggi, lirik dan musik yang ‘Merah’, ‘beracun’ dan keras. Keempat single dari tiga band ini cukup mewarnai hingar bingar permusikan Yogyakarta pada tahun 2011.

9. 2011 Packaged Releases Picks : To Die, Anggisluka and Belkastrelka


Jika di atas tadi saya menyebutkan empat single, kali ini penulis ingin menyebutkan tiga rilisan yang ter-packaged rapi, baik EP, Kompilasi ataupun Full-Album. Band pertama adalah To Die yang pada pertengahan 2011 mengunggah semua diskografi mereka melalui Stone Age Records. Rilisan tersebut dapat diunduh secara gratis di situs Stone Age Records. Di dalam diskografi itu terdapat berbagai macam bentuk rilisan dari To Die, seperti Improvisastions and Collaborations, Rehearsals dan Remix yang melibatkan banyak musisi lain. Sementara itu, Anggisluka merilis sebuah EP berjudul “Antiklimaks”, yang berisi lima lagu. Dua lagu di antaranya merupakan lagu lama yaitu “Alone” dan “Maka”. Rilisan ini eksklusif karena diproduksi terbatas. Cara mendapatkan rilisan ini pun cukup unik yaitu dengan menuliskan “Antiklimaks” di pergelangan tangan atau sekitarnya. Tulisan tadi lalu dipotret dan dikirim kepada pihak dari Anggisluka. Dengan cara itu, khalayak bisa mendapatkan rilisan dengan gratis.

Selanjutnya adalah Belkastrelka, yang mengadakan launching mereka pada 24 Novemeber lalu di Teater Garasi. Album bertajuk “Bela Bangsa” ini dirilis dengan bentuk yang unik. Seperti album mereka sebelumnya yang mengambil bentuk tempat korek api kayu, kali ini mereka mereka menggunakan plastik kerap yang digunakan untuk membungkus mainan anak-anak. Dua lagu dalam album baru, yaitu “Agen Gosip” dan “Pujian Ekspatriat”, sudah diunggah di situs Free Singles Club. Pada tanggal yang belum ditentukan, album ini juga akan dirilis secara gratis oleh YesNoWave.com.

10. Rotten Agenda II: Harda Tider and Milisi Kecoa at Slackers Company

Di penghujung tahun, (28/12), terjadi sebuah invasi besar-besaran dari luar Yogya. Band dari Swedia Hårda Tider, yang sedang mengadakan South East Asia Tour, hadir bersama Milisi Kecoa. Beberapa band dari Yogya yang ikut serta memanaskan suasana malam itu adalah Wicked Suffer, Talking Coasty, Orthrus dan Stronger Than Before. Sete Star Sept yang sebelumnya dijadwalkan main, terlambat hadir sehingga tidak bisa turut unjuk gigi malam itu. Menurut penulis ini merupakan agenda musik keras akhir taun yang tidak anti-klimaks. Malam itu suasana panas benar-benar merata. Crowd mulai menggila ketika Stronger Than Before, salah satu band Old School Hardcore kawakan dari Yogyakarta unjuk gigi.

Tanpa menunggu lama, Milisi Kecoa mendapat giliran untuk menghunuskan dua antena kokoh mereka ke arah penonton. “Ini bukan Arab, Bung!” dan “Police Brutality” yang merupakan lagu dari The Clown dibawakan dengan beringas, membuat jiwa-jiwa muda riuh berebut microphone yang dipegang oleh Dani sang vokalis. Sedikit menunggu untuk performa selanjutnya, akhirnya Hårda Tider unjuk gigi di panggung kecil namun luar biasa di Slackers Company. Penonton semakin menggila dengan penampilan band D-beat/Hardcore-Punk asal Swedia ini, saat mereka membawakan “Bring the Ruckus”. Acara ini berhasil menjadi sebuah klimaks di tahun 2011 ini.

Talking Coasty

Orthrus

Wicked Suffer

Stronger Than Before

Milisi Kecoa

Hårda Tider

The Crowd


Foto Rotten Agenda II oleh Noe Prasetya

Links for each post :

Fallenlight at Facebook
Wicked Suffer at Blogspot
Dead at Facebook
Vrosk at Facebook
Sangkar Burung at Tumblr
Indonoise at Tumblr
PatiRasaRecord at Blogspot
MDAE at Facebook
Talking Coasty at Facebook
Realino Resort at Facebook
Armada Racun at Facebook
To Die at Facebook
Anggisluka at Facebook
Belkastrelka at Facebook
Milisi Kecoa at Facebook
Harda Tider at Facebook


http://alphabetajournal.com/?p=1448

Meramal Jogjakarta di Era 2012 by Indra Menus

saat ini banyak artikel yang mengulas tentang apa yang terjadi di tahun 2011 kemaren. saya jadi tergerak untuk menulis sedikit, tapi mungkin kali ini saya ingin lebih mengulas apa yang akan terjadi di tahun 2012 nanti. ah, saya bukan peramal jadi jangan jadikan tulisan ini sebagai patokan baku ya :) .

karena saya lebih banyak bergerak di bidang musik “sidestream” dan lebih banyak mendekam di kota tercinta Jogjakarta, maka tentu saja akan lebih valid jika saya mengulas tentang sisi skena musik sidestream di sini. hmm, kenapa saya pakai istilah sidestream? mungkin ada yang bertanya. sebenarnya saya sendiri nggak ingin terjebak dalam istilah istilah yang kadang seolah mencitrakan orang yang memakainya itu seorang yang pinter, hipster atau update, nggak, kadang malah saya pikir istilah istilah tadi kadang membingungkan orang awam, yang akhirnya malah isi nya nggak nyampe ke yang baca. ahh, kenapa jadi bahas masalah istilah ya? hahaha bodohnya saya, simple saja, saya sebut sidestream karena memang bukan di wilayah mainstream :) . 

mungkin untuk teman teman di skena Jogjakarta tahu kalau istilah/ jargon seperti Do It Yourself, Indie, counter culture dll itu nggak begitu strict banget di jalankan di kota ini, semua seperti nge-blend menjadi satu. nggak peduli DIY, mainstream, Indie atau “indie” seolah nggak begitu terlalu di permasalahkan lagi. mungkin karena orang orang yang bergerak di skena musik di Jogja cuma itu itu doang, dalam artian semuanya teman :) . anyway, ini cuma sekedar gambaran/pemikiran saya tentang skena musik di Jogjakarta.

ok, kembali ke review aja ya, daripada ngelantur hahaha..

berikut beberapa band, record label atau organiser yang layak untuk di simak, di ikuti bla bla bla untuk tahun 2012 nanti. biar adil dan nggak terkesan arogan, semua yang saya tulis disini tanpa menyertakan beberapa hal yang berhubungan dengan aktifitas saya, semisal band saya (To die, lastkisstodieofvisceroth, manhere, kill my aquarian soulmate), label saya relamati Records, zine saya (matigaya zine dan menghamba mesin photokopi) maupun kongsi jahat syndicate. plus mungkin ada beberapa band/label/zine yang sama bagusnya tapi karena menurut saya mempunyai kesamaan jadi ya mau nggak mau saya mesti nentuin mana yang saya pilih untuk di ulas sedikit di sini. memilih mana yang bagus dari sekumpulan hal yang bagus itu pekerjaan yang sulit, untungnya saya nggak membuat hal ini seolah seperti pekerjaan saya :) . nikmati saja tulisan saya ini, sekali lagi ini cuma tulisan saya, kalau ada yang merasa tidak setuju ya monggo bikin tulisan sendiri, simple kan? :)

1. Talking Coasty

http://www.facebook.com/pages/Talking-Coasty/232372226822618

 Band surf pop dengan vokalis wanita, saya nggak akan menulis band ini hanya karena band ini vokalisnya wanita tapi memang band ini keren. setelah beberapa kali mendengar nama band ini dan mendapat rekomendasi dari Dodon akhirnya saya lihat juga band ini live full set mereka pas gig di Hoarse Tour yang bertempat di cafe Wadjah, venue yang cukup intim untuk menikmati musik mereka. satu hal yang mungkin sedikit menjadi ganjalan yaitu musik mereka yang sangat Best Coast. owh sial, saya lupa, toh kebanyakan band pasti memunculkan karakter yang hampir mirip sama influence mereka. semoga saja mereka bisa keluar dari bayang bayang Best Coast dan mencari sound mereka sendiri, atau mereka memang ingin seperti itu? coba saja kita lihat nanti, setidaknya 2 lagu yang baru mereka rekam bisa di jadikan preview seperti apa hal yang mereka inginkan nanti.

2. Arpappel

http://www.facebook.com/pages/ARPAPPEL/290750837612625

 saya tidak mengira sebuah band grunge bisa seperti ini, bahkan saya sebelumnya tidak mengira kalau masih ada komunitas atau apalah itu yang berhubungan dengan musik grunge di kota ini. kalaupun ada mungkin tidak lebih dari para revivalist Nirvana. dan saya bersyukur bahwa saya salah. saya menemukan band ini ketika Iron Lung (USA) maen di Jogjakarta dan pentolan Arpappel, adit, membantu saya menemukan venue gratis untuk gig itu. sebagai gantinya, Arpappel pun saya persilahkan untuk bermain membuka gig itu. awalnya saya merasa biasa biasa saja dengan permainan mereka, sampai mungkin ketika gitaris mereka mengeluarkan pisau dan mulai menggesek2kan ke senar nya dan sebagai klimaksnya, membanting gitar ke lantai. hmm sedikit tipikal grunge memang. penampilan kedua mereka saya saksikan ketika mereka bermain bersama Cloud Mouth (USA). lagi lagi saya kaget, gig yg di selenggarakan oleh teman2 Jogjakarta Grunge People ini setidaknya banyak menampilkan band band berbahaya yang nggak melulu Nirvana. dan Arpappel salah satunya. disini saya terkesima ketika mendapati mereka bermain noise dengan lebih “tertata”, penuh feed back dan gesekan sepatu ke gitar yang di banting di lantai, menemani adit yang teriak “modar” berulangkali dalam keadaan mabuk parah. ini baru yang saya cari. menikmati band ini tentu saja lebih afdol ketika mereka bermain live karena di situlah essensi noise yang mereka coba rangkum. semoga tahun 2012 nanti mereka bakal merilis video live :)

3. Deadly Weapon

http://www.facebook.com/pages/DEADLY-WEAPONS-DEATH/55690822427

 mungkin tahun 2011 kemaren lebih pantas dianggap sebagai tahun mereka, tapi menurut saya, sebelum album mereka rilis (yang di perkirakan awal 2012 ini melalui Rottrevore Records) mereka masih berhak menikmati status the next big thing. awalnya saya tahu band ini dari profile mereka di DAB magazine dan ketika mereka merombak besar besaran formasi mereka dan mengubah haluan musiknya ke arah grindcore, saya langsung jatuh cinta. secara, grindcore di Jogjakarta sangatlah sedikit. apalagi dengan skill plus sang drummer yang sumpah sangat keren sekali :) . ketika java grind fastival di gelar di Jogjakarta dan DW menjadi bagian line up nya,  lepas landas sudah mereka ke dalam jantung para grinders Indonesia. hampir semua orang di skena grindcore lokal membicarakan band ini. dan tidak salah kalau label sekelas Rottrevore pun meminang mereka, their 2012 album is worth to wait.

4. Anus Apatis

www.soundcloud.com/cangse

 ”salahkan” Wowok, sang pemilik netlabel terkemuka Yesnowave yang merekomendasikan band ini ke saya ketika sedang mencari band grindcore yang akan bermain di Java Grind fast. begitu mendengar nama nama yang berada di formasi mereka, saya langsung tertarik untuk melihat mereka bermain. bayangkan sebuah band yang di gawangi oleh seorang DJ underground, Uma Gumma yang menyajikan sampling dasarnya untuk di perkosa habis habisan oleh Ican, pentolan boys band black metal, cangkang serigala beserta sejoli MC nya Hahan, yang juga bermain di band noise kvlt, Black Ribbon serta Punkasila. sebuah perpaduan dub step, bla bla bla sampling, electronic music dengan noise grind plus tingkah polah 2 komedian ini di saat live mereka. para puritan grindcore pun tak luput dari rasa heran plus takjub sekaligus ngakak ketika melihat mereka perform. dan seperti Arpappel, band ini menurut saya terasa lebih mengena ketika kita mendapatinya bermain live, siapkan perut anda karena anda bakal tertawa terpingkal pingkal.

5. Stars and Rabbit

http://www.facebook.com/starsandrabbit?ref=ts

 dulu saya tertarik dengan sebuah band bernama eVo, oke, band ini mungkin terdengar terlalu mainstream tapi sumpah, suara khas vokalisnya yang cempreng cempreng gimana gitu bisa membuat saya selalu kagum. ini adalah salah satu band yang terlihat distinctive di antara setumpuk band band mainstream kala itu. dan seperti proyek proyek band “audisi di TV” lainnya, eVo pun menghilang secara perlahan. tapi syukurlah, mbak elda, sang vokalis yang kemudian membuka sebuah toko second hand dan hand made di Jogjakarta masih belum padam keinginannya untuk bermain musik. tahun 2011 kemaren lahirlah Stars and Rabbit yang awalnya merupakan proyek duo. perkenalan pertama saya justru ketika mereka akan bermain di sebuah kafe, Lir Shop. timbul semacam ketertarikan, waktu itu saya belum sempat melihat live mereka tetapi setelah searching sana sini, akhirnya nemu juga link lagu mereka, dan voila, saya takjub dengan suara khas Elda yang masih bercirikan mirip seperti ketika di eVo, walaupun tentu saja terlihat lebih mature dalam balutan musik yang folkish. apalagi kemudian saya menyaksikan mereka bermain akustik di stage Craft Carnival, really awesome. jangan sampai kamu melewatkan album mereka tahun 2012 ini.

6. Answer Sheet

http://www.facebook.com/answersheet

coba hitung, berapa banyak band Indonesia yang memainkan musik hanya memakai kencrung/ukulele? sedikit sekali bukan? dan dari yang sedikit ini, Answer Sheet merupakan yang menonjol. saya menemukan mereka ketika mereka bermain di gig Sarang Burung yang pertama. walaupun saya hanya mendengarkan sedikit set mereka waktu itu tapi saya langsung tahu bahwa mereka bakal menjadi the next big thing in the city. ketika kemudian saya melihat full set mereka di gig Common People di Wadjah cafe, saya kontan tidak mau ketinggalan moment tersebut, dan saya sangat menikmati set mereka yang ternyata sangat tidak membosankan. amazing. syukurlah ketika bertemu dengan teman teman Common People untuk sesi wawancara, mereka memberikan demo mereka yang langsung saya dengarkan begitu saya sampai di rumah. damn, sangat brilliant. bukan cuma musik mereka, tapi juga lirik yang nggak muluk muluk, mudah sekali untuk di cerna. mereka bahkan punya lirik untuk sebuah pantai di Gunung Kidul, semoga ada orang pariwisata yang tahu, siapa tahu bakal menjadi sound track promosi pantai tersebut. 

7. Pati Rasa Records

http://www.facebook.com/pages/Pati-Rasa-Records/268268403190766

 satu lagi records label menjanjikan dari ranah Jogjakarta. mungkin tidak seperti records label yang lain di sini, Pati Rasa adalah sebuah label yang merilis album rilisannya dalam bentuk free download, walaupun rilisan perdana nya, split MDX dan Bangkai Angsa merupakan rilisan berbentuk fisik cdr. sebuah records label yang bermula dari keisengan merilis album band sendiri terus kemudian berkembang dengan merilis banyak rilisan dari band dalam dan luar kota Jogjakarta bahkan mancanegara, membuktikan bahwa net label satu ini sudah tidak bisa hanya di pandang sebelah mata. mungkin Pati Rasa belumlah se-kvlt Yesnowave tetapi satu hal yang membedakan label ini adalah spefisikasi rilisan mereka yang secara tidak sengaja menuju ke arah sisi Drone, Doom serta Improve Noise. suatu spefikasi yang saya pikir jarang di temui di Indonesia sendiri. 

8. Sangkar Burung

http://www.facebook.com/groups/164095790311714/

 jujur saya merasa bingung menentukan antara Sangkar Burung atau Yesnoklub, kedua organiser ini mempunyai agenda yang sangat sangat menarik, dengan line up yang selalu membuat saya tertarik mendatangi gig mereka. jangan tanya kenapa saya lebih memilih Sangkar Burung ketimbang Yesnoklub ya, saya sendiri juga masih bingung hahaha. mungkin penjelasan di bawah ini bisa memberikan sedikit gambaran. Sangkar Burung adalah sebuah kolektif organiser yang berisi anak anak muda yang pinter dan jeli melihat band band mana saja yang potensial untuk di angkat dalam gig mereka. ketika pertama kali melihat gig mereka, yang notabene selalu gratisan, saya menemukan line up band band baru (dengan rata rata personel muda belia) yang sangat tidak biasa. band band baru tadi mengusung jenis musik yang beragam plus nggak pasaran, sebut saja seperti Answer Sheet atau Aeophan. 

9. Alphabeta Journal

http://alphabetajournal.com/

 media alternatif di Jogjakarta sangatlah sedikit yang bisa bertahan lebih dari 3 tahun. perebutan kue iklan yang sama mungkin bisa menjadi salah satu faktor yang menjadikan beberapa media alternatif di sini mati muda karena kekurangan dana. walaupun kemudian muncul beberapa media baru berbasis website sebagai salah satu cara mengatasi kesulitan mencari dana tersebut. media seperti Evenue, AreaXYZ bahkan EAR magz yang berganti wujud menjadi webzine. masing masing mempunyai keunggulannya. Alphabeta Journal mungkin masih terbilang baru, dengan tag line freedom writers yang mencoba menyajikan bahasan bahasan sesuai yang di inginkan oleh kontributornya sendiri. memang webzine ini tidak secara spesifik mengulas tentang skena musik, tetapi beberapa tulisan mereka menunjukkan bahwa mereka intens mengikuti perkembangan yang terjadi di skena musik Jogjakarta. coba cek website mereka dan kamu akan tahu sendiri apa yang saya maksud di sini. 

10. My Dear Are Enemy

http://www.facebook.com/pages/my-dear-are-enemy/80966168987

 hahaha saya hampir saja melupakan band ini. saya mengenal trio post punk ini ketika mereka masih memulainya sebagai band SMU. dari banyaknya band band SMU yang muncul saat itu mungkin hanya mereka yang pinter dan jeli melihat sebuah genre musik yang jarang di mainkan di Jogjakarta, post punk. ok, ketika mereka memulainya, pikiran saya terpaku pada satu band, Joy Division. OMG, kenapa mesti selalu Joy Division ya kalau merujuk post punk? hehehe.. dan untunglah ketika saya menjadi lebih mengenal mereka secara personal, musik mereka menjadi lebih berkembang dan banyak memasukkan unsur musik lain dalam benang merah post punk. dan mereka tidak pernah menutup diri untuk mengeksplor dan bahkan mengajak musisi lain untuk kolaborasi, seperti kolaborasi mereka bersama Wedness Mandra (Asangata, bangkai Angsa) serta Hilman (DJ Modarx) yang menunjukkan keinginan mereka secara sadar untuk masuk ke dalam ranah noise dan eksperimental. mereka telah mengeluarkan singel dan semoga saja mereka bisa dan mau merilis album mereka di tahun 2012, because its definately worth to wait.

11. Noise, Eksperimental, Free Improve, Whatever Music

 ok, mungkin bagi beberapa orang agak susah untuk mengakui bahwa bebunyian seperti ini di sebut musik, bahkan pada essensi nya kebanyakan Noiser mengakui bahwa mereka adalah anti tesis dari Musik. baiklah, mungkin musik musik seperti ini juga tidak akan menjadi sesuatu yang se-hype musik Ska di era 90an, tapi setidaknya bakal ada sesuatu pemikiran yang, setidaknya, baru bahwa musik itu tidak melulu kord A B C D, tp bisa juga tanpa kord :) . dengan muncul nya label seperti Pati Rasa Records atau yang lebih duluan muncul, Yesnowave yang juga intens ke wilayah ini, tampaknya tahun depan “gerakan gerakan” ini bakal lebih terlihat lagi. apalagi dengan akan di gagas nya the so called, Jogjakarta Noise Fest yang seperti juga Denver Noise Fest atau Noise fest2 yang lain, bakal beraromakan bebunyian2 semacam harsh noise,  eksperimental atau free improve. setidaknya Jogjakarta sekarang sudah mempunyai proyekan semacam Soda Dosa, Feces Anatomy, Bangkai Angsa, DJ Modarx, Zoo, Senyawa, Jurumeya, Asangata dan masih banyak lagi.

12. NOK37

http://www.reverbnation.com/NOK37

 jujur saya tidak begitu mengikuti scene hiphop di Jogjakarta, walaupun beberapa teman yang bermain band bersama saya, dekat atau bahkan mempunyai group hiphop. suatu waktu, teman saya Prazt merekomendasikan sebuah group hiphop baru nya, NOK37. awalnya saya pikir, ah paling juga gitu gitu aja. dan ketika saya menyimak 3 lagu demo mereka, saya langsung suka semuanya. biasanya hanya group group seperti Homicide yang bisa membuat saya menyukai semua lagu mereka (dalam hal beat dan rima), kebanyakan ya cuma nyantol 1 atau 2 lagu aja yg punya beat menarik, terus yang lain beat nya pun menurun, but this one is different. liriknya pun nggak terlalu “tinggi” dan bisa di cerna dengan mudah, easy listening tapi beat nya selalu  membuat saya selalu bersemangat. kabar terakhir dari Prazt, mereka sedang menyiapkan EP untuk tahun 2012 ini.

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150519809599241

The Cloves and The Tobacco - Cornalist St..
Download (Single)

The Cloves and The Tobacco - Cornalist St..

Download (Single)

Answer Sheet - Singles (2010)
DOWNLOAD

Answer Sheet - Singles (2010)

DOWNLOAD

Me and The Dirty Girl - Rebel Shine (Single)
DOWNLOAD

Me and The Dirty Girl - Rebel Shine (Single)

DOWNLOAD

My Dear Are Enemy - Provocation (Single)
DOWNLOAD

My Dear Are Enemy - Provocation (Single)

DOWNLOAD

Asangata - Vortex & Genitals (2010)
DOWNLOAD

Asangata - Vortex & Genitals (2010)

DOWNLOAD

MDX - Temple Of Noise (2010)
DOWNLOAD

MDX - Temple Of Noise (2010)

DOWNLOAD

Profil Sangkar Burung

Sangkar Burung adalah sebuah komunitas yang berdomisili di Yogyakarta. Sebagai Komunitas yang baru saja terbentuk pada awal Februari 2011. Kami ingin memberi warna baru dan menyediakan lahan atau menjadi wadah bagi para musisi muda di Yogyakarta yang mempunyai potensi untuk maju.

Konsep acara yang kami tawarkan dalam event yang pernah kita laksanakan :

  1. Geeks Invasion
    Sangkar Burung
    merupakan salah satu komunitas musik yang berusaha menggali potensi – potensi musik lokal dengan berporos pada band - band yang jarang terlihat di atas panggung khususnya pada mereka yang sedang memulai debutnya tanpa dibatasi aliran – aliran  atau genre musik tertentu sehingga mereka bisa mengapresiasikan karya mereka dan terus berkicau sekeras - kerasnya lewat Sangkar Burung. Disini kami tidak sekedar menyajikan suatu pertunjukan musik, namun juga sebagai media ekspresi serta eksplorasi kreatif dari band – band mereka yang akan tampil disini. Kami berusaha untuk membantu memperkenalkan sekaligus mengangkat nama band – band mereka untuk lebih terdengar agar tersampaikan gaungnya kemasyarakat luas. Tetapi disini kita tidak asal saja menampung berbagai macam aliran musik untuk ditampilkan melainkan kita berusaha untuk melihat secara terperinci apa aliran yang mereka bawakan sebagai acuan dalam setiap konsep acara yang kita sajikan agar dapat sekiranya bisa memikat para penikmat musik.
  2. Kill Your Fuckin’ Idol
    Konsep acara yang kami usung disini untuk memberi kan wadah bagi para band yang ingin, membunuh, memultilasi, mengadopsi, membabi buta, atau apa saja supaya lebih terlihat menarik dari band yang menjadi idola mereka. Acara senang senang bersama Sangkar Burung ini biasa kita laksanakan di akhir tahun.


Selamat menikmati acara kami :)

Artikel terkait Sangkar Burung by Alhabeta Journal

From Yogyakarta For Yogy∆karta – 2011


Ditulis oleh Hilman Fathoni

Dalam momen akhir tahun ini, penulis ingin mempersembahkan catatan beberapa hal yang terjadi di Yogyakarta pada tahun 2011. Disadari atau tidak, kejadian-kejadian berikut ini cukup berpengaruh di ranah musik Yogyakarta. Dalam artian membuat Yogyakarta menjadi Yogy∆karta. Yap, ini adalah sebuah opini. Semoga bisa dinikmati.

1. Fallenlight demo “Last Man Standing”

Pada akhir tahun 2010, Fallenlight (BM/Punk) dari Yogyakarta merekam dua lagu dan merangkumnya dalam sebuah demo berjudul “Last Man Standing Demo”. Dimana demo ini tersebar melalui jejaring sosial dan berbagai review di media internet pada tahun 2011. Memang gaya musik yang dimainkan oleh Fallenlight ini terbilang orisinil dan amat jarang ditemui di Indonesia. Apalagi mereka adalah satu-satunya band yang diakui oleh Fenriz dari Darkthrone. Setelah itu muncul banyak band yang memainkan Old School Black Metal dengan tema-tema yang horroric dan cult seperti Impish dan Bvrtan. Disusul dengan band yang masih setema seperti Pocong Mvndvr yang penulis nilai sebagai terusan dari Bvrtan. Dengan ini memang 2 lagu yang dirilis oleh Fallenlight merupakan salah satu hal yang berpengaruh pada tahun 2011.

2. Wicked Suffer : Vicious Circle Tape

Mei 2011, sebuah band dari ranah Powerviolence menelurkan album mereka yang berisikan tujuh lagu super jahat dan cepat, yang bisa kita sebut seven deadly tracks with early power violence sounds, in this god-damn age. Mereka menghadirkan kesan gelap dan jahat dalam alunan musik 80’s Hardcore yang kental dengan kecepatan, kependekan dan ketegasan dalam setiap lagu-lagunya. Lirik yang ditulis oleh Rudi sang vokalis pun mencerminkan kebencian-kebencian yang hadir dalam pikiran manusia maupun yang datang dari luar pikiranya. Diikuti dengan musik latar super cepat, naik turun dan ketukan drum yang super agresif, seakan mengajak kita berdansa di atas api neraka! Bayangkan! Kehadiran band seperti Wicked Suffer diikuti dengan lahirnya band seperti Wound yang sama-sama memainkan hardcore gelap dan cepat.

3. Dead-Onion-Vrosk : The Soul of Purification at Jogja National Museum

Acara ini diselenggarakan pada tanggal 10 Mei sekitar pukul 18.00 WIB di Jogja National Museum (JNM), tepatnya di sebuah basement yang kerap menjadi ajang musik keras. Malam itu, suasana di JNM seperti dikelilingi oleh hawa gelap yang dibawa oleh tiga band dari luar Yogya yang hadir malam itu. Dead dari Ausitralia yang membawakan suasana doom/sludge, bersamaan dengan sebuah projek funeral-doom dari bandung yaitu Vrosk benar-benar membuat JNM menjadi terasa lambat dan indah malam itu. Begitu pula dengan Onion. Menurut saya acara yang terbilang kecil ini menjadi salah satu momentum yang bisa disebut The Awakener of the Cult in Yogyakarta. Impact nyatanya mungkin sudah anda nikmati seiring berjalanya tahun 2011.

4. Sangkar Burung : Geek Invasion and Kill Your Fuckin’ Idol

Sangkar Burung merupakan sebuah komunitas yang bergerak dalam bidang event musik dan memang terbilang baru di ranah musik Yogyakarta. Debut mereka dimulai dengan pembuatan acara “Geek Invasion” di halaman luar studio pengerat yang menampilkan band seperti MDAE, dan Daydreamer.

Agenda mereka yang berikutnya adalah acara bernama “Kill Your Fuckin’ Idol”. Di dalam acara tersebut setiap band yang tampil harus membawakan lagu dari grup/artis/band yang menjadi influence mereka, contohnya seperti Talking Coasty membawakan tembang-tembang milik Best Coast dan The Cloves and Tobacco membawakan track-track dari Flogging Molly. Pada malam itu juga hadir sebuah band dari Bandung yaitu A Slow in Dance yang baru saja mengeluarkan EP terbaru mereka. Sangkar Burung berniat mengonsentrasikan acara mereka untuk menampilkan band-band yang memang jarang tampak atau baru memulai debut mereka dan memerlukan wadah berbentuk sebuah acara tanpa mempedulikan apa saja genre band tersebut.

5. Indoneisan Noise Music Documentary Movie

Juni lalu diadakan sebuah pertemuan bermisi pengumpulan materi interview, sebagai bahan untuk pembuatan film dokumenter Noise Indonesia: A Noise music Documentary. Film ini sendiri digarap oleh Danif Pradana (Producer), Adithya Utama (Director) dan Riar Rizaldi (Co-Director). Pertemuan pertama diadakan di Kafe Semesta dan disambung dengan pertemuan berikutnya di kantor netlabel YesNoWaveMusic yang Kunci Cultural Studies, di bilangan selatan Yogyakarta. Para noise maker yang hadir pada kedua pertemuan itu antara lain Indra Menus (To Die, Manhere, LKTDOV), Wok the Rock (Demi Tuhan, The Spektakuler), Krisna Widiathama (Sodadosa),dan Wednes Mandra (Asangata, Bangkai Angsa). Film dokumenter ini rencananya akan dirilis pada bulan Januari tahun 2012 mendatang.

6. Patirasa Record Netlabel: Someday, Your Pain Will Be Felt Normal

Pati Rasa Record adalah sebuah netlabel milik Wednes Mandra yang mulai aktif mengunggah rilisanya di Internet pada tahun 2011. Pati Rasa Record sebenarnya sudah pernah membuat sebuah rilisan fisik pada November 2010 yaitu sebuah Split EP Modarx dengan Bangkai Angsa. Rilisan dari Pati Rasa sendiri tidak terkonsentrasi pada genre musik tertentu, tapi tanpa tersadari terdapat lebih banyak band-band yang memainkan musik yang dekat dengan Noise dan Drone. Dua rilisan terakhir Pati Rasa terbilang cukup gila yaitu Kill My Aquarian milik Indra Menus dan Projek666Satanoise dari Malaysia.

7. My Dear Are Enemy (MDAE) with their presents in 2011

Sebuah band yang mengusung genre post-punk, yang kental dengan unsur gelap nan depresif dari band seperti Bauhaus dan Joy Division serta berisiknya Sonic Youth dan Nirvana, ditambah dengan unsur kerumitan dari Unwound. My Dear Are Enemy memuntahkan satu single yang briliant yaitu, “Tergilas Melintas”. Entah mengapa penulis merasa single terakhir mereka ini merupakan sebuah kreasi penyempurnaan dari lagu mereka yang sebelumnya. Semua unsur musik dan non-musik yang mereka inginkan tercipta di dalamnya. Ketukan drum monoton, permainan bass tebal ala 80’s deathrock/postpunk dan teriakan tak berujung dari Cipta sang vokalis sangat membuat single ini berwarna. Dalam pembuatan lirik, Cipta tetap konstan dengan depresi dan kegelapan yang selalu mewarnai setiap musik dan lirik yang dia buat. Pada pertengahan tahun, mereka juga membuat sebuah EP Live yang berjudul “Live in Namexxx” yang berisikan tiga lagu yang dapat diunduh gratis di Pati Rasa Record.

8. 2011 Single Picks: Talking Coasty, Realino Resort and Armada Racun


Tahun 2011 diwarnai dengan rilisan single dari berbagai band dengan segala macam genre. Dari sekian banyak band, penulis mengambil empat single dari tiga band. Talking Coasty, surfpop/lo-fi dengan dua single berjudul Please Stop Pretending” dan “Stuck On My Room” benar-benar membawa kita ke dimensi lain berwarna kuning, yang kemudian mengingatkan kita dengan Best Coast. Realino Resort, yang penulis rasa sempat terlupakan, juga menggemparkan Desember dengan single barunya “Candu Pencahar”. Tetap kental dengan unsur metal-punk dan riff rock ‘n roll yang sudah mereka letakan pada lagu-lagu sebelumnya. Single ini rencananya akan dimasukan ke dalam EP terbaru mereka yang dijadwalkan rilis pada bulan Januari 2012 mendatang. Yang terakhir adalah band favorit penulis, yaitu Armada Racun dengan sebuah single yang rilis pada 22 Desember lalu. Dalam masa vakumnya, mereka menelurkan single yang tergolong mantap dari segi sound, konsistensi musik yang tinggi, lirik dan musik yang ‘Merah’, ‘beracun’ dan keras. Keempat single dari tiga band ini cukup mewarnai hingar bingar permusikan Yogyakarta pada tahun 2011.

9. 2011 Packaged Releases Picks : To Die, Anggisluka and Belkastrelka


Jika di atas tadi saya menyebutkan empat single, kali ini penulis ingin menyebutkan tiga rilisan yang ter-packaged rapi, baik EP, Kompilasi ataupun Full-Album. Band pertama adalah To Die yang pada pertengahan 2011 mengunggah semua diskografi mereka melalui Stone Age Records. Rilisan tersebut dapat diunduh secara gratis di situs Stone Age Records. Di dalam diskografi itu terdapat berbagai macam bentuk rilisan dari To Die, seperti Improvisastions and Collaborations, Rehearsals dan Remix yang melibatkan banyak musisi lain. Sementara itu, Anggisluka merilis sebuah EP berjudul “Antiklimaks”, yang berisi lima lagu. Dua lagu di antaranya merupakan lagu lama yaitu “Alone” dan “Maka”. Rilisan ini eksklusif karena diproduksi terbatas. Cara mendapatkan rilisan ini pun cukup unik yaitu dengan menuliskan “Antiklimaks” di pergelangan tangan atau sekitarnya. Tulisan tadi lalu dipotret dan dikirim kepada pihak dari Anggisluka. Dengan cara itu, khalayak bisa mendapatkan rilisan dengan gratis.

Selanjutnya adalah Belkastrelka, yang mengadakan launching mereka pada 24 Novemeber lalu di Teater Garasi. Album bertajuk “Bela Bangsa” ini dirilis dengan bentuk yang unik. Seperti album mereka sebelumnya yang mengambil bentuk tempat korek api kayu, kali ini mereka mereka menggunakan plastik kerap yang digunakan untuk membungkus mainan anak-anak. Dua lagu dalam album baru, yaitu “Agen Gosip” dan “Pujian Ekspatriat”, sudah diunggah di situs Free Singles Club. Pada tanggal yang belum ditentukan, album ini juga akan dirilis secara gratis oleh YesNoWave.com.

10. Rotten Agenda II: Harda Tider and Milisi Kecoa at Slackers Company

Di penghujung tahun, (28/12), terjadi sebuah invasi besar-besaran dari luar Yogya. Band dari Swedia Hårda Tider, yang sedang mengadakan South East Asia Tour, hadir bersama Milisi Kecoa. Beberapa band dari Yogya yang ikut serta memanaskan suasana malam itu adalah Wicked Suffer, Talking Coasty, Orthrus dan Stronger Than Before. Sete Star Sept yang sebelumnya dijadwalkan main, terlambat hadir sehingga tidak bisa turut unjuk gigi malam itu. Menurut penulis ini merupakan agenda musik keras akhir taun yang tidak anti-klimaks. Malam itu suasana panas benar-benar merata. Crowd mulai menggila ketika Stronger Than Before, salah satu band Old School Hardcore kawakan dari Yogyakarta unjuk gigi.

Tanpa menunggu lama, Milisi Kecoa mendapat giliran untuk menghunuskan dua antena kokoh mereka ke arah penonton. “Ini bukan Arab, Bung!” dan “Police Brutality” yang merupakan lagu dari The Clown dibawakan dengan beringas, membuat jiwa-jiwa muda riuh berebut microphone yang dipegang oleh Dani sang vokalis. Sedikit menunggu untuk performa selanjutnya, akhirnya Hårda Tider unjuk gigi di panggung kecil namun luar biasa di Slackers Company. Penonton semakin menggila dengan penampilan band D-beat/Hardcore-Punk asal Swedia ini, saat mereka membawakan “Bring the Ruckus”. Acara ini berhasil menjadi sebuah klimaks di tahun 2011 ini.

Talking Coasty

Orthrus

Wicked Suffer

Stronger Than Before

Milisi Kecoa

Hårda Tider

The Crowd


Foto Rotten Agenda II oleh Noe Prasetya

Links for each post :

Fallenlight at Facebook
Wicked Suffer at Blogspot
Dead at Facebook
Vrosk at Facebook
Sangkar Burung at Tumblr
Indonoise at Tumblr
PatiRasaRecord at Blogspot
MDAE at Facebook
Talking Coasty at Facebook
Realino Resort at Facebook
Armada Racun at Facebook
To Die at Facebook
Anggisluka at Facebook
Belkastrelka at Facebook
Milisi Kecoa at Facebook
Harda Tider at Facebook


http://alphabetajournal.com/?p=1448

Meramal Jogjakarta di Era 2012 by Indra Menus

saat ini banyak artikel yang mengulas tentang apa yang terjadi di tahun 2011 kemaren. saya jadi tergerak untuk menulis sedikit, tapi mungkin kali ini saya ingin lebih mengulas apa yang akan terjadi di tahun 2012 nanti. ah, saya bukan peramal jadi jangan jadikan tulisan ini sebagai patokan baku ya :) .

karena saya lebih banyak bergerak di bidang musik “sidestream” dan lebih banyak mendekam di kota tercinta Jogjakarta, maka tentu saja akan lebih valid jika saya mengulas tentang sisi skena musik sidestream di sini. hmm, kenapa saya pakai istilah sidestream? mungkin ada yang bertanya. sebenarnya saya sendiri nggak ingin terjebak dalam istilah istilah yang kadang seolah mencitrakan orang yang memakainya itu seorang yang pinter, hipster atau update, nggak, kadang malah saya pikir istilah istilah tadi kadang membingungkan orang awam, yang akhirnya malah isi nya nggak nyampe ke yang baca. ahh, kenapa jadi bahas masalah istilah ya? hahaha bodohnya saya, simple saja, saya sebut sidestream karena memang bukan di wilayah mainstream :) . 

mungkin untuk teman teman di skena Jogjakarta tahu kalau istilah/ jargon seperti Do It Yourself, Indie, counter culture dll itu nggak begitu strict banget di jalankan di kota ini, semua seperti nge-blend menjadi satu. nggak peduli DIY, mainstream, Indie atau “indie” seolah nggak begitu terlalu di permasalahkan lagi. mungkin karena orang orang yang bergerak di skena musik di Jogja cuma itu itu doang, dalam artian semuanya teman :) . anyway, ini cuma sekedar gambaran/pemikiran saya tentang skena musik di Jogjakarta.

ok, kembali ke review aja ya, daripada ngelantur hahaha..

berikut beberapa band, record label atau organiser yang layak untuk di simak, di ikuti bla bla bla untuk tahun 2012 nanti. biar adil dan nggak terkesan arogan, semua yang saya tulis disini tanpa menyertakan beberapa hal yang berhubungan dengan aktifitas saya, semisal band saya (To die, lastkisstodieofvisceroth, manhere, kill my aquarian soulmate), label saya relamati Records, zine saya (matigaya zine dan menghamba mesin photokopi) maupun kongsi jahat syndicate. plus mungkin ada beberapa band/label/zine yang sama bagusnya tapi karena menurut saya mempunyai kesamaan jadi ya mau nggak mau saya mesti nentuin mana yang saya pilih untuk di ulas sedikit di sini. memilih mana yang bagus dari sekumpulan hal yang bagus itu pekerjaan yang sulit, untungnya saya nggak membuat hal ini seolah seperti pekerjaan saya :) . nikmati saja tulisan saya ini, sekali lagi ini cuma tulisan saya, kalau ada yang merasa tidak setuju ya monggo bikin tulisan sendiri, simple kan? :)

1. Talking Coasty

http://www.facebook.com/pages/Talking-Coasty/232372226822618

 Band surf pop dengan vokalis wanita, saya nggak akan menulis band ini hanya karena band ini vokalisnya wanita tapi memang band ini keren. setelah beberapa kali mendengar nama band ini dan mendapat rekomendasi dari Dodon akhirnya saya lihat juga band ini live full set mereka pas gig di Hoarse Tour yang bertempat di cafe Wadjah, venue yang cukup intim untuk menikmati musik mereka. satu hal yang mungkin sedikit menjadi ganjalan yaitu musik mereka yang sangat Best Coast. owh sial, saya lupa, toh kebanyakan band pasti memunculkan karakter yang hampir mirip sama influence mereka. semoga saja mereka bisa keluar dari bayang bayang Best Coast dan mencari sound mereka sendiri, atau mereka memang ingin seperti itu? coba saja kita lihat nanti, setidaknya 2 lagu yang baru mereka rekam bisa di jadikan preview seperti apa hal yang mereka inginkan nanti.

2. Arpappel

http://www.facebook.com/pages/ARPAPPEL/290750837612625

 saya tidak mengira sebuah band grunge bisa seperti ini, bahkan saya sebelumnya tidak mengira kalau masih ada komunitas atau apalah itu yang berhubungan dengan musik grunge di kota ini. kalaupun ada mungkin tidak lebih dari para revivalist Nirvana. dan saya bersyukur bahwa saya salah. saya menemukan band ini ketika Iron Lung (USA) maen di Jogjakarta dan pentolan Arpappel, adit, membantu saya menemukan venue gratis untuk gig itu. sebagai gantinya, Arpappel pun saya persilahkan untuk bermain membuka gig itu. awalnya saya merasa biasa biasa saja dengan permainan mereka, sampai mungkin ketika gitaris mereka mengeluarkan pisau dan mulai menggesek2kan ke senar nya dan sebagai klimaksnya, membanting gitar ke lantai. hmm sedikit tipikal grunge memang. penampilan kedua mereka saya saksikan ketika mereka bermain bersama Cloud Mouth (USA). lagi lagi saya kaget, gig yg di selenggarakan oleh teman2 Jogjakarta Grunge People ini setidaknya banyak menampilkan band band berbahaya yang nggak melulu Nirvana. dan Arpappel salah satunya. disini saya terkesima ketika mendapati mereka bermain noise dengan lebih “tertata”, penuh feed back dan gesekan sepatu ke gitar yang di banting di lantai, menemani adit yang teriak “modar” berulangkali dalam keadaan mabuk parah. ini baru yang saya cari. menikmati band ini tentu saja lebih afdol ketika mereka bermain live karena di situlah essensi noise yang mereka coba rangkum. semoga tahun 2012 nanti mereka bakal merilis video live :)

3. Deadly Weapon

http://www.facebook.com/pages/DEADLY-WEAPONS-DEATH/55690822427

 mungkin tahun 2011 kemaren lebih pantas dianggap sebagai tahun mereka, tapi menurut saya, sebelum album mereka rilis (yang di perkirakan awal 2012 ini melalui Rottrevore Records) mereka masih berhak menikmati status the next big thing. awalnya saya tahu band ini dari profile mereka di DAB magazine dan ketika mereka merombak besar besaran formasi mereka dan mengubah haluan musiknya ke arah grindcore, saya langsung jatuh cinta. secara, grindcore di Jogjakarta sangatlah sedikit. apalagi dengan skill plus sang drummer yang sumpah sangat keren sekali :) . ketika java grind fastival di gelar di Jogjakarta dan DW menjadi bagian line up nya,  lepas landas sudah mereka ke dalam jantung para grinders Indonesia. hampir semua orang di skena grindcore lokal membicarakan band ini. dan tidak salah kalau label sekelas Rottrevore pun meminang mereka, their 2012 album is worth to wait.

4. Anus Apatis

www.soundcloud.com/cangse

 ”salahkan” Wowok, sang pemilik netlabel terkemuka Yesnowave yang merekomendasikan band ini ke saya ketika sedang mencari band grindcore yang akan bermain di Java Grind fast. begitu mendengar nama nama yang berada di formasi mereka, saya langsung tertarik untuk melihat mereka bermain. bayangkan sebuah band yang di gawangi oleh seorang DJ underground, Uma Gumma yang menyajikan sampling dasarnya untuk di perkosa habis habisan oleh Ican, pentolan boys band black metal, cangkang serigala beserta sejoli MC nya Hahan, yang juga bermain di band noise kvlt, Black Ribbon serta Punkasila. sebuah perpaduan dub step, bla bla bla sampling, electronic music dengan noise grind plus tingkah polah 2 komedian ini di saat live mereka. para puritan grindcore pun tak luput dari rasa heran plus takjub sekaligus ngakak ketika melihat mereka perform. dan seperti Arpappel, band ini menurut saya terasa lebih mengena ketika kita mendapatinya bermain live, siapkan perut anda karena anda bakal tertawa terpingkal pingkal.

5. Stars and Rabbit

http://www.facebook.com/starsandrabbit?ref=ts

 dulu saya tertarik dengan sebuah band bernama eVo, oke, band ini mungkin terdengar terlalu mainstream tapi sumpah, suara khas vokalisnya yang cempreng cempreng gimana gitu bisa membuat saya selalu kagum. ini adalah salah satu band yang terlihat distinctive di antara setumpuk band band mainstream kala itu. dan seperti proyek proyek band “audisi di TV” lainnya, eVo pun menghilang secara perlahan. tapi syukurlah, mbak elda, sang vokalis yang kemudian membuka sebuah toko second hand dan hand made di Jogjakarta masih belum padam keinginannya untuk bermain musik. tahun 2011 kemaren lahirlah Stars and Rabbit yang awalnya merupakan proyek duo. perkenalan pertama saya justru ketika mereka akan bermain di sebuah kafe, Lir Shop. timbul semacam ketertarikan, waktu itu saya belum sempat melihat live mereka tetapi setelah searching sana sini, akhirnya nemu juga link lagu mereka, dan voila, saya takjub dengan suara khas Elda yang masih bercirikan mirip seperti ketika di eVo, walaupun tentu saja terlihat lebih mature dalam balutan musik yang folkish. apalagi kemudian saya menyaksikan mereka bermain akustik di stage Craft Carnival, really awesome. jangan sampai kamu melewatkan album mereka tahun 2012 ini.

6. Answer Sheet

http://www.facebook.com/answersheet

coba hitung, berapa banyak band Indonesia yang memainkan musik hanya memakai kencrung/ukulele? sedikit sekali bukan? dan dari yang sedikit ini, Answer Sheet merupakan yang menonjol. saya menemukan mereka ketika mereka bermain di gig Sarang Burung yang pertama. walaupun saya hanya mendengarkan sedikit set mereka waktu itu tapi saya langsung tahu bahwa mereka bakal menjadi the next big thing in the city. ketika kemudian saya melihat full set mereka di gig Common People di Wadjah cafe, saya kontan tidak mau ketinggalan moment tersebut, dan saya sangat menikmati set mereka yang ternyata sangat tidak membosankan. amazing. syukurlah ketika bertemu dengan teman teman Common People untuk sesi wawancara, mereka memberikan demo mereka yang langsung saya dengarkan begitu saya sampai di rumah. damn, sangat brilliant. bukan cuma musik mereka, tapi juga lirik yang nggak muluk muluk, mudah sekali untuk di cerna. mereka bahkan punya lirik untuk sebuah pantai di Gunung Kidul, semoga ada orang pariwisata yang tahu, siapa tahu bakal menjadi sound track promosi pantai tersebut. 

7. Pati Rasa Records

http://www.facebook.com/pages/Pati-Rasa-Records/268268403190766

 satu lagi records label menjanjikan dari ranah Jogjakarta. mungkin tidak seperti records label yang lain di sini, Pati Rasa adalah sebuah label yang merilis album rilisannya dalam bentuk free download, walaupun rilisan perdana nya, split MDX dan Bangkai Angsa merupakan rilisan berbentuk fisik cdr. sebuah records label yang bermula dari keisengan merilis album band sendiri terus kemudian berkembang dengan merilis banyak rilisan dari band dalam dan luar kota Jogjakarta bahkan mancanegara, membuktikan bahwa net label satu ini sudah tidak bisa hanya di pandang sebelah mata. mungkin Pati Rasa belumlah se-kvlt Yesnowave tetapi satu hal yang membedakan label ini adalah spefisikasi rilisan mereka yang secara tidak sengaja menuju ke arah sisi Drone, Doom serta Improve Noise. suatu spefikasi yang saya pikir jarang di temui di Indonesia sendiri. 

8. Sangkar Burung

http://www.facebook.com/groups/164095790311714/

 jujur saya merasa bingung menentukan antara Sangkar Burung atau Yesnoklub, kedua organiser ini mempunyai agenda yang sangat sangat menarik, dengan line up yang selalu membuat saya tertarik mendatangi gig mereka. jangan tanya kenapa saya lebih memilih Sangkar Burung ketimbang Yesnoklub ya, saya sendiri juga masih bingung hahaha. mungkin penjelasan di bawah ini bisa memberikan sedikit gambaran. Sangkar Burung adalah sebuah kolektif organiser yang berisi anak anak muda yang pinter dan jeli melihat band band mana saja yang potensial untuk di angkat dalam gig mereka. ketika pertama kali melihat gig mereka, yang notabene selalu gratisan, saya menemukan line up band band baru (dengan rata rata personel muda belia) yang sangat tidak biasa. band band baru tadi mengusung jenis musik yang beragam plus nggak pasaran, sebut saja seperti Answer Sheet atau Aeophan. 

9. Alphabeta Journal

http://alphabetajournal.com/

 media alternatif di Jogjakarta sangatlah sedikit yang bisa bertahan lebih dari 3 tahun. perebutan kue iklan yang sama mungkin bisa menjadi salah satu faktor yang menjadikan beberapa media alternatif di sini mati muda karena kekurangan dana. walaupun kemudian muncul beberapa media baru berbasis website sebagai salah satu cara mengatasi kesulitan mencari dana tersebut. media seperti Evenue, AreaXYZ bahkan EAR magz yang berganti wujud menjadi webzine. masing masing mempunyai keunggulannya. Alphabeta Journal mungkin masih terbilang baru, dengan tag line freedom writers yang mencoba menyajikan bahasan bahasan sesuai yang di inginkan oleh kontributornya sendiri. memang webzine ini tidak secara spesifik mengulas tentang skena musik, tetapi beberapa tulisan mereka menunjukkan bahwa mereka intens mengikuti perkembangan yang terjadi di skena musik Jogjakarta. coba cek website mereka dan kamu akan tahu sendiri apa yang saya maksud di sini. 

10. My Dear Are Enemy

http://www.facebook.com/pages/my-dear-are-enemy/80966168987

 hahaha saya hampir saja melupakan band ini. saya mengenal trio post punk ini ketika mereka masih memulainya sebagai band SMU. dari banyaknya band band SMU yang muncul saat itu mungkin hanya mereka yang pinter dan jeli melihat sebuah genre musik yang jarang di mainkan di Jogjakarta, post punk. ok, ketika mereka memulainya, pikiran saya terpaku pada satu band, Joy Division. OMG, kenapa mesti selalu Joy Division ya kalau merujuk post punk? hehehe.. dan untunglah ketika saya menjadi lebih mengenal mereka secara personal, musik mereka menjadi lebih berkembang dan banyak memasukkan unsur musik lain dalam benang merah post punk. dan mereka tidak pernah menutup diri untuk mengeksplor dan bahkan mengajak musisi lain untuk kolaborasi, seperti kolaborasi mereka bersama Wedness Mandra (Asangata, bangkai Angsa) serta Hilman (DJ Modarx) yang menunjukkan keinginan mereka secara sadar untuk masuk ke dalam ranah noise dan eksperimental. mereka telah mengeluarkan singel dan semoga saja mereka bisa dan mau merilis album mereka di tahun 2012, because its definately worth to wait.

11. Noise, Eksperimental, Free Improve, Whatever Music

 ok, mungkin bagi beberapa orang agak susah untuk mengakui bahwa bebunyian seperti ini di sebut musik, bahkan pada essensi nya kebanyakan Noiser mengakui bahwa mereka adalah anti tesis dari Musik. baiklah, mungkin musik musik seperti ini juga tidak akan menjadi sesuatu yang se-hype musik Ska di era 90an, tapi setidaknya bakal ada sesuatu pemikiran yang, setidaknya, baru bahwa musik itu tidak melulu kord A B C D, tp bisa juga tanpa kord :) . dengan muncul nya label seperti Pati Rasa Records atau yang lebih duluan muncul, Yesnowave yang juga intens ke wilayah ini, tampaknya tahun depan “gerakan gerakan” ini bakal lebih terlihat lagi. apalagi dengan akan di gagas nya the so called, Jogjakarta Noise Fest yang seperti juga Denver Noise Fest atau Noise fest2 yang lain, bakal beraromakan bebunyian2 semacam harsh noise,  eksperimental atau free improve. setidaknya Jogjakarta sekarang sudah mempunyai proyekan semacam Soda Dosa, Feces Anatomy, Bangkai Angsa, DJ Modarx, Zoo, Senyawa, Jurumeya, Asangata dan masih banyak lagi.

12. NOK37

http://www.reverbnation.com/NOK37

 jujur saya tidak begitu mengikuti scene hiphop di Jogjakarta, walaupun beberapa teman yang bermain band bersama saya, dekat atau bahkan mempunyai group hiphop. suatu waktu, teman saya Prazt merekomendasikan sebuah group hiphop baru nya, NOK37. awalnya saya pikir, ah paling juga gitu gitu aja. dan ketika saya menyimak 3 lagu demo mereka, saya langsung suka semuanya. biasanya hanya group group seperti Homicide yang bisa membuat saya menyukai semua lagu mereka (dalam hal beat dan rima), kebanyakan ya cuma nyantol 1 atau 2 lagu aja yg punya beat menarik, terus yang lain beat nya pun menurun, but this one is different. liriknya pun nggak terlalu “tinggi” dan bisa di cerna dengan mudah, easy listening tapi beat nya selalu  membuat saya selalu bersemangat. kabar terakhir dari Prazt, mereka sedang menyiapkan EP untuk tahun 2012 ini.

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150519809599241

The Cloves and The Tobacco - Cornalist St..
Download (Single)

The Cloves and The Tobacco - Cornalist St..

Download (Single)

Answer Sheet - Singles (2010)
DOWNLOAD

Answer Sheet - Singles (2010)

DOWNLOAD

Me and The Dirty Girl - Rebel Shine (Single)
DOWNLOAD

Me and The Dirty Girl - Rebel Shine (Single)

DOWNLOAD

My Dear Are Enemy - Provocation (Single)
DOWNLOAD

My Dear Are Enemy - Provocation (Single)

DOWNLOAD

Asangata - Vortex & Genitals (2010)
DOWNLOAD

Asangata - Vortex & Genitals (2010)

DOWNLOAD

MDX - Temple Of Noise (2010)
DOWNLOAD

MDX - Temple Of Noise (2010)

DOWNLOAD

Profil Sangkar Burung

Sangkar Burung adalah sebuah komunitas yang berdomisili di Yogyakarta. Sebagai Komunitas yang baru saja terbentuk pada awal Februari 2011. Kami ingin memberi warna baru dan menyediakan lahan atau menjadi wadah bagi para musisi muda di Yogyakarta yang mempunyai potensi untuk maju.

Konsep acara yang kami tawarkan dalam event yang pernah kita laksanakan :

  1. Geeks Invasion
    Sangkar Burung
    merupakan salah satu komunitas musik yang berusaha menggali potensi – potensi musik lokal dengan berporos pada band - band yang jarang terlihat di atas panggung khususnya pada mereka yang sedang memulai debutnya tanpa dibatasi aliran – aliran  atau genre musik tertentu sehingga mereka bisa mengapresiasikan karya mereka dan terus berkicau sekeras - kerasnya lewat Sangkar Burung. Disini kami tidak sekedar menyajikan suatu pertunjukan musik, namun juga sebagai media ekspresi serta eksplorasi kreatif dari band – band mereka yang akan tampil disini. Kami berusaha untuk membantu memperkenalkan sekaligus mengangkat nama band – band mereka untuk lebih terdengar agar tersampaikan gaungnya kemasyarakat luas. Tetapi disini kita tidak asal saja menampung berbagai macam aliran musik untuk ditampilkan melainkan kita berusaha untuk melihat secara terperinci apa aliran yang mereka bawakan sebagai acuan dalam setiap konsep acara yang kita sajikan agar dapat sekiranya bisa memikat para penikmat musik.
  2. Kill Your Fuckin’ Idol
    Konsep acara yang kami usung disini untuk memberi kan wadah bagi para band yang ingin, membunuh, memultilasi, mengadopsi, membabi buta, atau apa saja supaya lebih terlihat menarik dari band yang menjadi idola mereka. Acara senang senang bersama Sangkar Burung ini biasa kita laksanakan di akhir tahun.


Selamat menikmati acara kami :)

Artikel terkait Sangkar Burung by Alhabeta Journal
Meramal Jogjakarta di Era 2012 by Indra Menus
Profil Sangkar Burung

About: